Kita, apa masih sama seperti saat pertama kali kamu mengaitkan jemarimu di sela-sela jemariku?. Ah, ternyata sudah banyak waktu yang kita jalani. Banyak perbedaan yang semakin nyata dan semakin menonjol. Aku dengan segenap apa yang menjadi kebenaranku, dan kamu dengan segala yang menjadi benarmu.
Aku tak tau keadaan ini akan bertahan selama apa?. Berakhir dengan seperti apa?. Aku meraba-raba tapi tetap saja abu-abu. Berubah, iya itulah yang menjadi temanku. Aku semakin tak mengenalimu, bahkan aku merasa kamu menyuruhku untuk pergi meninggalkanmu. Ada hal lain yang membuatmu merasa lebih baik selain aku. Tapi apalah aku, hanya kamu perbolehkan menebak-nebak situasi tanpa berakhir dengan penjelasan. Jenuh, mungkin itu alasan utama kita memilih untuk menjadikan keadaan menjadi seperti ini. Kita sama-sama jenuh dengan kita, dengan hal yang biasa kita lakukan. Kita sama-sama lelah. Apa ini sudah waktunya untukku menyerah?
Sebaiknya aku harus bersikap seperti apa?. Aku belum terbiasa dengan perlakuanmu yang seperti ini, yang nyata-nyata berbeda ketika kita pertama kali sama-sama berjanji untuk bersama dan bersatu. Mungkin kamu sedang lupa, atau bahkan ingin melupakan kita?. Bicaralah bagaimana maumu, biar aku bisa menempatkan sebagai apa dimatamu.
Apa aku harus menyerah di sini?. Melepaskan apa yang telah aku perjuangkan dan aku bangun dengan segenap air mata dan pengorbanan?. Aku ingin kau menjadi lelakiku seperti beberapa waktu lalu saat kamu jatuh cinta kepadaku, tapi aku sadari hal itu tak akan pernah terjadi bahkan kembali. Untung saja aku sudah menyimpannya kenangan manis itu, setidaknya aku pernah merasakan hal indah bersamamu dan begitu berkesan. Yah, saat ini hal yang hanya bisa aku lakukan adalah mengenang. Mengenang semua cerita manis kita di awal dulu.
Seakan aku terbawa kembali pada masa itu, ah sungguh sesuatu yang amat sangat disayangkan kini harus aku lupakan semua dan kembali menatap kenyataan yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar